![]() |
| Bupati Kabupaten Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama saat membuka acara Musrenbang RKPD 2027 Kecamatan Ketapang | foto. Dok.Diskominfo Lamsel |
KETAPANG - Cinta itu indah, tapi kalau desa yang dicintai tambah cantik, apalagi dapat hadiah infrastruktur? Itu baru namanya romantis tingkat tinggi.
Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan rupanya lagi kasmaran sama ide pembangunan. Buktinya, mereka berencana menggelar lomba Desa Helau, ajang adu cantik dan inovatif antar-desa. Bukan sekadar piala atau tropi, hadiahnya beneran bikin iri yaitu pembangunan infrastruktur.
Program ini digagas sebagai “stimulus percepatan pembangunan berbasis partisipasi masyarakat.” Artinya warga harus kompak, kreatif, dan siap-siap disulap jadi tim juri dadakan di kampung sendiri.
Rencana ini disampaikan langsung Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, saat membuka Musrenbang RKPD 2027 Kecamatan Ketapang di Desa Sri Pendowo, Rabu (11/2/2026). Ya, forum yang biasanya penuh angka dan dokumen tebal itu tiba-tiba berubah wujud jadi panggung pencarian bakat versi desa.
Bupati Egi mengajak seluruh kades dan warganya untuk berkompetisi positif. Bukan saling serang isu, tapi saling adu desa yang paling asri, maju, dan kalau perlu paling bikin warganya betah nongkrong di balai desa.
“Saya ingin bapak ibu semua bikin desa helau. Kita akan launching, setiap desa nanti kita lombakan, hadiahnya infrastruktur. Bikin desanya jadi cantik, hijau, lestari, elok, aman, dan SDM-nya unggul,” ujar Egi dengan semangat yang terdengar sampai ke pematang sawah.
Ia menegaskan, ini bukan sekadar lomba seremonial, apalagi cuma ajang selfie proyek. Ini adalah gerakan kolektif yang mendorong desa punya karya nyata. Karya yang bikin lingkungan adem, warganya sejahtera, dan yang paling penting bisa bikin desa tetangga geleng-geleng kepala karena iri.
“Kita sama-sama berlomba dalam kebaikan. Bikin karya-karya inovatif, karya-karya yang berdampak untuk masyarakat,” tambahnya.
Tapi sebelum semuanya larut dalam euforia lomba, Bupati Egi juga kasih pesan khusus, ia bilang jangan sampai kepala desa malah jadi penghambat warganya sendiri.
Ia mengingatkan agar para kades menjalankan amanah dengan profesional, tidak mempersulit pelayanan publik, serta yang paling penting tidak jadi duri dalam daging pembangunan.
“Jangan dengan jabatan kepala desa mempersulit diri sendiri dan masyarakat. Saya tidak main-main, saya tidak bisa lindungi. Mau itu tim sukses saya sekalipun, kalau melanggar hukum ya saya angkat tangan,” tegasnya.
Bahkan soal kritik pun, Egi membuka diri. Tapi ada syaratnya, jangan jadi pengecut digital.
“Saya tidak anti kritik, tapi kalau laporan akun bodong tanpa identitas saya tidak bisa tanggapi karena tidak tahu benar atau tidak. Ada yang tanya kenapa aduannya lama ditanggapi, karena kita harus cari bukti dulu. Satu aduan saja bisa seminggu, karena harus mengumpulkan alat bukti,” jelasnya.
Maka, bagi warga Lampung Selatan yang ingin desanya jadi pemenang, bersiaplah. Bukan hanya untuk mengecat pagar atau menanam bunga, tapi juga untuk menjaga semangat gotong royong, integritas, dan tentu saja kesabaran saat menanti hasil aduan ditindaklanjuti.
Selamat berlomba, para desa. Semoga yang menang bukan hanya desa tercantik, tapi juga desa yang warganya paling kompak. Dan semoga hadiah infrastrukturnya nggak cuma janji manis sampai pemilu berikutnya. (*)
