KALIANDA – Dentingan pancing yang tercebur ke birunya ombak Pantai Kalianda seolah menjadi irama perayaan kemerdekaan. Atau ya, setidaknya itu yang dirasakan para pemancing yang udah keringetan sejak siang. Sabtu (29/8/2026),
Pemuda Karet Way Kiyai ngadain lomba mancing dasaran yang katanya sih bukan cuma adu skill, tapi juga simbol kebersamaan dalam bingkai HUT Kemerdekaan RI ke-81. Simbolnya ya gitu, kalo ikannya mau diajak kerja sama.
Sebanyak 81 peserta dari berbagai wilayah dengan setia nangkring di garis pantai sejak siang menjelang sore. Jumlah itu sengaja dipilih panitia, katanya sih sebagai bentuk penghormatan pada usia kemerdekaan Indonesia yang ke-81 tahun. Atau mungkin biar gampang ngitung hadiahnya? Ah, kita nggak tahu.
"Total peserta 81, sesuai dengan HUT Kemerdekaan kita. Ini bukan angka kebetulan, kami ingin setiap peserta mewakili semangat satu tahun perjuangan bangsa. Alhamdulillah, lomba berjalan lancar dan sukses," ujar Almidin, salah satu panitia, kepada Lamsel.id sambil mungkin ngelap keringat yang nggak berhenti ngalir.
Semarak lomba makin kerasa berkat dukungan penuh dari para sponsor yang bikin saku panitia lega. Sejumlah doorprize menarik disiapkan buat para peserta, hasil dukungan dari Toko Baru Pancing dan Toko Najat Pancing. Nggak cuma nambah kemeriahan, kehadiran sponsor lokal ini juga jadi bukti nyata kalo pegiat pancing dan penjual pancing itu emang jodoh. Kalo ikannya nggak mau makan, ya mereka tetap laku.
Suasana makin rame saat joran demi joran mulai melengkung. Entah itu kena ikan atau kena sengklek, yang jelas sorak-sorai peserta dan penonton sesekali pecah, bikin suasana sore makin semarak. Nggak jarang terdengar tawa dan canda antarpeserta. Soalnya di laut mah musuh, di pasir mah sahabat. Kecuali ikannya yang diambil, itu baru musuh beneran.
Puncak kegembiraan terjadi saat pengumuman pemenang. Gelar juara pertama berhasil diraih oleh Supri dari Lubuk dengan torehan ikan terberat mencapai 1 kilogram. Satu kilo doang? Ya laut sedang baik hati, tapi nggak terlalu baik. Sementara posisi juara kedua jatuh kepada Aliyun dari Kedaton yang berhasil ngangkat ikan seberat 6,5 ons. Selisih 3,5 ons, tapi juara tetep beda.
Salah satu peserta, Husen, ngaku bahagia bukan cuma karena bisa beradu otot sama ikan-ikan laut, tapi juga karena ajang ini jadi pelepas penat sekaligus ajang silaturahmi. Padahal bocor mulu.
"Senang sekali ada lomba seperti ini. Selain wisata, kami bisa menyalurkan hobi. Juga ketemu teman-teman dari daerah lain. Ini jadi momen langka yang kami tunggu-tunggu," ungkap Husen sambil tersenyum puas, meski boncos. Ya gitu deh, kadang yang penting bukan hasil, tapi proses. Proses ngos-ngosan bawa joran sejam.
Semua hadiah diserahkan secara simbolis sebagai bentuk apresiasi. Soalnya buat mereka, yang terutama adalah kebersamaan dan syukur atas 81 tahun Indonesia merdeka. Dan yang terpenting, ikan-ikannya masih punya kesempatan buat berkembang biak sebelum lomba tahun depan.
Di tengah hembusan angin laut dan deburan ombak yang romantis abis, kegiatan berakhir dengan penuh suka cita. Harapannya, tradisi ini terus hidup, menjadi ruang buat pemuda buat berkarya, berolahraga, dan merawat rasa cinta pada tanah air. Satu pancingan dalam satu waktu, semoga ikannya nggak kabur semua. (*)

