BAKAUHENI – Kementerian Hak Asasi Manusia (KemenHAM) bergerak cepat mengantisipasi kemacetan arus mudik Lebaran 2026 di Pelabuhan Bakauheni. Tim yang dipimpin Penta Peturun turun langsung melakukan pemantauan dan pemetaan jam-jam rawan guna memastikan kelancaran penyeberangan.
Dalam pemantauan yang melibatkan Pemprov Lampung, aparat kepolisian, TNI, dan PT ASDP ini, terungkap fakta mengejutkan, kemacetan panjang di Pelabuhan Bakauheni ternyata bukan semata-mata karena keterbatasan kapal. Meski kapasitas armada dinyatakan mencukupi, potensi antrean mengular tetap mengintai para pemudik.
"Macet besar bukan karena kapal kurang, tetapi karena kendaraan datang dalam waktu yang sama," ujar Penta Peturun.
Data proyeksi mengungkapkan skala besar pergerakan masyarakat di pelabuhan penyeberangan utama ini. Sebanyak 319.916 kendaraan dan 108.050 penumpang diperkirakan akan menyeberang, difasilitasi oleh 2.481 trip kapal. Lonjakan terbesar diprediksi didominasi oleh kendaraan pribadi dan sepeda motor, yang kerap menjadi biang keladi kepadatan.
Tim KemenHAM berhasil memetakan secara detail periode kritis yang harus diwaspadai pemudik, Awal Arus Mudik (H-4 hingga H-2), Waktu terburuk adalah pukul 15.00–23.00 WIB dengan potensi antrean mencapai 2–4 jam.
Kemudian, Puncak Arus Mudik (H-3), Ini adalah waktu kritis. Antrean diprediksi membengkak menjadi 3–5 jam pada rentang pukul 17.00–02.00 WIB. Lalu, Arus Balik (H+3 hingga H+6), Fase ini dinilai lebih menantang. Antrean bisa mencapai 4–6 jam atau lebih, terutama jika faktor cuaca buruk dan padatnya kendaraan logistik ikut bermain.
Berdasarkan temuan ini, KemenHAM merekomendasikan waktu terbaik untuk menyeberang, yaitu pada dini hari hingga pagi (01.00–10.00 WIB). Sebaliknya, pemudik sangat disarankan untuk menghindari periode sore hingga malam hari.
Selain itu, masyarakat diimbau untuk tidak datang terlalu awal ke pelabuhan jika belum memiliki tiket. Kebiasaan ini justru berisiko tinggi memperparah antrean di area tunggu.
Tak hanya soal kelancaran, aspek kemanusiaan juga menjadi sorotan utama. KemenHAM menekankan pentingnya prioritas layanan bagi kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, dan penyandang disabilitas. Pihaknya mendorong penyediaan jalur khusus dan ruang istirahat yang nyaman. Pemerintah daerah juga diminta proaktif menyampaikan informasi kepadatan secara real-time agar pemudik dapat mengambil keputusan cerdas di tengah perjalanan.
Penta Peturun mengingatkan bahwa kunci utama mudik yang aman dan menyenangkan ada pada persiapan matang. Mulai dari membeli tiket jauh-jauh hari, datang sesuai jadwal, mematuhi rekayasa lalu lintas, hingga menyiapkan kebutuhan pribadi seperti air minum, obat-obatan, dan makanan ringan.
"Mudik bukan hanya soal sampai tujuan, tetapi bagaimana perjalanan itu tetap aman dan manusiawi," ujarnya. (*)
