Iklan

Iklan

,

Iklan

Bupati Egi Jenguk Korban Calo Kapal Ikan Merauke, Imbau Masyarakat Waspada Tawaran Kerja Palsu

09 April 2026, 19:13 WIB

KALIANDA – Setelah berbulan-bulan terjebak dalam jerat sindikat calo tenaga kerja kapal ikan di Merauke, Papua Selatan, Ahmad Abi Ar-Razi yang akrab disapa Aji akhirnya bisa pulang kampung ke Lampung Selatan. Selamat datang di rumah, Mas. Meskipun kepulangannya bukan sekadar perjalanan pulang, tapi juga bawa oleh-oleh luka, trauma, dan mungkin pelajaran hidup paling mahal sepanjang karier.

Aji tiba di Bandara Radin Inten II, Rabu malam (8/4/2026) sekitar pukul 20.10 WIB. Perjalanan panjang dari Merauke, Papua Selatan, akhirnya usai. Keluarga yang sudah lama menanti sampai nangis haru. Dinas Sosial Lampung Selatan juga ikut mendampingi, seolah-olah Aji ini pahlawan daerah yang baru pulang dari medan perang. Bedanya, medan perangnya adalah kapal ikan.

Suasana makin haru-plus-emosi pada Kamis (9/4/2026), saat Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, sowan ke rumah orang tua Aji di Lingkungan 05 Sukajadi, Kecamatan Kalianda. Bupati datang bukan cuma untuk selfie atau bagi-bagi sembako, tapi benar-benar peduli. Atau setidaknya itu yang kelihatan.

Hasil pemeriksaan awal? Aji lagi jeblok banget. Batuk berdahak hijau (maaf, ini fakta medis), anemia, dan kaki yang bikin dia jalan kayak habis dipukul kayu. Pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan berencana menerjunkan tim medis. Semoga timnya jangan cuma bawa tensimeter doang.

Bupati Egi lalu bicara dengan gaya orang yang kesel campur iba, “Kita turut prihatin atas musibah ini. Saya mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati menerima tawaran pekerjaan. Jangan mudah percaya dengan janji-janji yang belum jelas,” ujarnya.

Bupati juga bilang bakal menelusuri pihak-pihak yang diduga terlibat. Jika ditemukan pelanggaran hukum, proses penindakan akan dilakukan sesuai aturan yang berlaku. Artinya, para calo mulai sekarang siap-siap ganti profesi.

Di tengah kondisi yang masih lemes, Aji malah didorong untuk balik sekolah. Dia cuma bertahan sampai kelas satu SMA dulu sebelum memutuskan bekerja. Mungkin karena tergiur gaji Rp5 juta.

“Saya sarankan Aji untuk sekolah lagi, minimal lulus SMA, supaya ke depan lebih mudah mendapatkan pekerjaan yang layak. Sehat dulu, pendidikan juga penting,” pesan Egi.

Nah, ini dia awal mula petaka: Aji dapat tawaran kerja di kapal ikan dengan iming-iming gaji Rp5 juta per bulan. Berangkat dari Jakarta ke Merauke penuh harap, kayak berangkat jadi TKI zaman dulu. Tapi kenyataan lebih kejam dari sinetron.

Setibanya di lokasi, gajinya langsung dipotong Rp4 juta dengan alasan biaya transportasi. Jadi awalnya cuma nerima Rp1 juta. Itu pun katanya di awal kerja. Selama kurang lebih 10 bulan, Aji cuma digaji satu bulan. Delapan bulan berikutnya? Nol besar. Tapi tetep dipaksa kerja kayak robot.

“Kerjanya bisa sampai 24 jam, mancing terus. Kaki jadi sakit karena terlalu lama berdiri, sampai sekarang belum bisa berdiri normal,” ungkap Aji.

Bayangkan, 24 jam mancing. Ikan aja mungkin kasihan.

Kini, Aji dan keluarga cuma bisa bersyukur. Sang ayah, Ahmad Yunus (50), berkata dengan nada haru. “Terima kasih banyak atas bantuan Bupati, Dinas Sosial, dan semua pihak yang sudah membantu Aji bisa pulang.”

Aji sendiri punya pesan penutup yang sebaiknya ditempel di setiap papan pengumuman desa. “Alhamdulillah sekarang bisa kumpul lagi dengan keluarga. Pesan saya, cari kerja yang jelas, jangan sampai ketipu omongan manis orang,” katanya. (*)

Iklan