Iklan

Iklan

,

Iklan

Siaga III Anak Krakatau: BNPB Tegaskan 3 Langkah Darurat, Warga Dilarang Mendekati Kawah

05 September 2026, 09:52 WIB

Foto tangkapan layar: gunung anak krakatau saat memuntahkan semburan lava

KALIANDA - Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan keganasannya. Erupsi yang berlangsung sejak Jumat (4/9/2026) malam hingga Sabtu (5/9/2026) pagi tidak hanya memuntahkan abu dan material vulkanik, tetapi juga menghadirkan fenomena langka yang memukau sekaligus mencemaskan yaitu lava fountain atau air mancur lava.

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menjelaskan bahwa fenomena tersebut teramati jelas pada malam hari, cahaya merah menyala dari kawah aktif menerangi gelapnya Selat Sunda.

Namun, keindahan alam itu menyimpan ancaman serius. Kamera CCTV pengamatan di lapangan dilaporkan tidak beroperasi setelah terkena lontaran material vulkanik. Dari sisi kegempaan, tercatat satu kejadian letusan dengan amplitudo 70 milimeter dan durasi yang tercatat dalam laporan selama 21.600 detik, setara dengan 6 jam gemuruh tak henti.

Saat ini, Gunung Anak Krakatau ditetapkan dalam status level III atau siaga. Masyarakat, pengunjung, dan wisatawan diimbau untuk tidak mendekati Gunung Anak Krakatau atau melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.

Dalam pemantauan visual, gunung api teramati jelas hingga tertutup kabut dengan tingkat kabut 0–III, sementara asap kawah tidak teramati. Cuaca dilaporkan berawan hingga mendung, dengan angin lemah hingga sedang ke arah barat laut.


Tiga Prioritas BNPB: Keselamatan, Kesiapsiagaan, dan Kewaspadaan

Berton menyebut, dalam menghadapi aktivitas erupsi terdapat tiga hal utama yang ditekankan BNPB.

Pertama, keselamatan masyarakat menjadi prioritas sehingga pemerintah daerah bersama unsur terkait perlu memastikan tidak ada masyarakat maupun wisatawan yang berada dalam radius bahaya.

"Pengawasan dan patroli di kawasan tersebut perlu terus diperkuat untuk mencegah masyarakat memasuki zona terlarang," ujar Berton, dalam keterangannya.

Kedua, perlu meningkatkan kesiapsiagaan. Pemerintah daerah bersama BPBD dan unsur terkait diharapkan memastikan jalur evakuasi, titik kumpul, sarana komunikasi serta kebutuhan dasar masyarakat siap digunakan apabila terjadi perubahan aktivitas yang membutuhkan langkah evakuasi.

Ketiga, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan dan mematuhi setiap arahan petugas. Dia juga mengimbau masyarakat untuk tidak menyebarluaskan informasi yang belum terverifikasi, termasuk mengenai potensi tsunami.

"BNPB bersama pemerintah daerah dan unsur terkait terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau. PVMBG juga akan melakukan evaluasi secara berkala maupun sewaktu-waktu apabila terdapat perubahan signifikan pada aktivitas maupun morfologi gunung api," ujar Berton.

Dentuman Misterius dan CCTV Padam

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM mencatat gunung Anak Krakatau mengalami gempa letusan atau erupsi, sehingga menetapkan status level III atau siaga.

Berdasarkan data Magma Indonesia, erupsi tersebut terus berlangsung sejak 4 September 2026 pukul 23:07 WIB. "Terdengar Dentuman dan Gemuruh dari Pos GAK Pasauran - CCTV pengamatan di lapangan OFF terkena lontaran," tulis laporan PVMBG dalam situs Magma ESDM, Sabtu (5/9/2026).

PVMBG mencatat terdapat 1 kali gempa letusan atau erupsi dengan amplitudo 70 mm, dan lama gempa 21600 detik. Tinggi erupsi belum teramati secara visual dan warna abu tidak teramati oleh PVMBG ESDM.

PVMBG menghimbau kepada masyarakat untuk tidak mendekati gunung Anak Krakatau atau beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.

"Masyarakat/pengunjung/wisatawan/pendaki tidak mendekati G. Anak Krakatau atau beraktivitas dalam radius 3 km dari kawah aktif," tegas PVMBG ESDM.


Sumber :
· Siaran pers BNPB, Sabtu (5/9/2026)
· Laporan PVMBG melalui situs Magma ESDM, Sabtu (5/9/2026)

Iklan